SEARCH  
BP3 BANGKA BELITUNG

» Adat dan Budaya
» Wisata Pantai
» Wisata Alam
» Wisata Sejarah
» Wisata Agro
» Wisata Olah Raga
» Wisata Pendidikan

» Kerajinan Tangan

FASILITAS

» Sarana Transportasi
» Hotel/Penginapan
» Sanggar Seni
» Biro Perjalanan
» Agen Perjalanan
» Rumah Makan
» Restoran

» Bank
» Rumah Sakit
» Toko Kerajinan Tangan

  Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang.

Selanjutnya ...

  Upacara ini merupakan tradisi para nelayan Bangka sebagai Ungkapansyukur dan mohon doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa, sebelum turun kelaut. Acara ini biasanya diadakan di Pantai Air Anyer Desa Air Anyer, Kecamatan Merawang dan Pantai Belimbing Desa Bakit, Kecamatan Jebus.

Selanjutnya ...

 

BADAN PENGEMBANGAN DAN PROMOSI PARIWISATA

Selamat Datang Di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Pulau Bangka yang dikenal sebagai penghasil Timah dan Lada Putih terbesar di Indonesia bahkan di dunia, memiliki sektor strategis berupa sektor pariwisata.

Sektor pariwisata saat ini sudah menjadi salah satu sektor unggulan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dan diharapkan sebagai penunjang utama dan dapat memberikan kontribusi yang besar bagi pendapatan negara dan pendapatan asli daerah (PAD) setelah timah. Pemerintah Kepulauan Bangka bersama pihak swasta saat ini sedang membangun fasilitas-fasilitas wisata yang dapat memberikan pelayanan untuk wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Bangka Belitung. Sektor pariwisata banyak melibatkan tenaga-tenaga terampil yang dengan sendirinya berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian masyarakat Bangka. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan Nasional dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Selamat datang dan selamat menikmati keindahan alam dan keramahtamahan di daerah Sepintu Sedulang, Kepulauan Bangka Belitung.

Cakrawala Baru Di Zamrud Khatulistiwa

Selama ini Pulau Bangka terkenal sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia, dan sebagai pulau lada putih yang termashur hingga ke mancanegara. Menurut sejarahnya, nama Bangka berasal dari kata ”Wangka” yang berarti timah. Kata wangka tertoreh pada prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan dekat Kota Kapur, Bangka Barat yang bertarikh 686 Masehi. Prasasti ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Timah ditemukan pertama kali di Pulau Bangka sekitar tahun 1709, oleh orang-orang Jahore, yang untuk pertama kali digali di daerah Sungai Olin, Kecamatan Toboali.

Pada abad VII, pulau Bangka mulai dikunjungi orang-orang Hindu dari Siantan, Jahore, Malaysia dan Mataram. Kehadiran para pendatang itu, kemudian disusul oleh bangsa Belanda Lalu Inggris dan Jepang saat Perang Dunia II berkecamuk.

Secara Geografis, sebelah utara Pulau Bangka berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah barat dengan Selat Bangka dan Selat Gaspar, sebelah Selatan Laut Jawa, sebelah timur dengan Laut Cina Selatan dan dua selat, yakni Selat Karimata dan Selat Gaspar. Secara astronomis, Pulau Bangka berada pada posisi 1' 30” 3' 7” Lintang Selatan dan 105' 107' Bujur Timur. Luas Pulau ini mencapai ± 11.615 km persegi, dengan kondisi topografi terdiri dari daratan rendah berbukit, rawa-rawa dengan hutan tropis, serta dikelilingi oleh pantai berpasir putih, pemandangan indah serta laut yang jernih.

Pulau Bangka berpenduduk ± 825.236 jiwa dengan kepadatan rata-rata 382.172 jiwa/km2, dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 0,22/tahun. Penduduk pulau ini beraneka ragam etnik dari seluruh Indonesia . Mata pencaharian penduduk, ± 66% masih tergandung pada lahan pertanian. Penduduk asli Pulau Bangka memiliki karakter tersendiri yang terbentuk dari pengaruh lingkaran agama dan budaya. Sebagian besar penduduk beragama Islam di samping Krinten, Hindu, Budha dan Kong Fhu Chu.